Program Studi Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), menyelenggarakan webinar dengan yang diadakan secara daring pada hari Sabtu (08/11) yang mengangkat tema “What Customer Say What You Build: Belajar Desain Berbasis Data Mining”. Webinar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terkait pemanfaatan data mining dalam proses desain produk sehingga produk dapat sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Mukti Faunia Rahmayani sebagai MC pada acara ini memulai webinar pada pukul 09.00 WIB. Setelah menyampaikan sambutan dan membacakan susunan acara, MC memandu peserta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne UII, lalu melanjutkan dengan sesi foto bersama seluruh peserta. Acara berlangsung dengan Zelania In Haryanto, S.T., M.T., sebagai moderator.

Pada acara ini,  Zelania selaku moderator, memperkenalkan Dr. Dwi Adi Purnama, S.T. sebagai pembicara utama. Beliau merupakan dosen Manajemen Rekayasa UII yang memiliki keahlian dan pengalaman kuat di bidang data mining, serta saat ini menjabat sebagai Kepala Laboratorium Data Mining.

Memahami Kebutuhan Customer Melalui Data Mining

Dalam pemaparan materinya, Dwi Adi menekankan bahwa salah satu fungsi dari kesuksesan produk yaitu dapat mengidentifikasi customer dan memberikan penawaran produk yang dibutuhkan oleh customer. Data mining dapat berperan penting dalam penyesuaian produk dengan kebutuhan customer, pemanfaatan data mining tidak hanya berhenti pada proses mengolah dan menampilkan data, tetapi teknik ini juga menjadi fondasi awal untuk memahami pola perilaku dan preferensi pelanggan dengan tetap membutuhkan pendalaman analisis agar hasilnya benar-benar relevan dengan arah desain yang ingin dikembangkan.

“Selain data mining itu perannya menampilkan pola atau trend, kita juga perlu adanya suatu interpretasi yang lebih dalam, agar bisa disesuaikan dengan kebutuhan desain yang mau kita tawarkan.” ungkapnya.

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa sejumlah teknik data mining yang dapat digunakan untuk memahami kebutuhan pelanggan secara lebih mendalam. Dwi Adi mencontohkan penggunaan sentiment analysis untuk mengidentifikasi emosi pelanggan melalui komentar positif maupun negatif, topic modeling untuk menemukan topik-topik yang paling sering dibahas sehingga perusahaan dapat mengetahui fitur apa yang dianggap penting oleh pengguna dan clustering juga menjadi teknik penting untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan kesamaan perilaku dan dapat dimanfaatkan untuk segmentasi pasar. Dalam pemilihan teknik, selalu menyesuaikan jenis data yang tersedia agar hasil analisis dapat mengarahkan keputusan desain produk secara tepat dan berbasis kebutuhan konsumen.

Sesi Tanya Jawab

Webinar ini berlangsung secara interaktif dengan adanya sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan yang diajukan peserta mengenai peran data mining yang dapat menjembatani kesenjangan antara apa yang pelanggan ungkapkan dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan, terkait teknik data mining dapat mengidentifikasi potensi penipuan digital, hingga merancang kuesioner yang efektif agar data yang terkumpul valid dan representatif.

Menanggapi hal tersebut, Dwi Adi menekankan pentingnya pemilihan sampel yang tepat, penggunaan teknik data mining yang sesuai serta perlunya interpretasi manusia untuk memahami konteks sosial, emosi, dan motif pengguna yang tidak selalu tampak dalam pola data. Dwi Adi juga menjelaskan bahwa data mining memiliki penerapan yang luas, mulai dari mengidentifikasi potensi penipuan pada layanan digital, memahami kebutuhan pelanggan untuk pengembangan produk, hingga memetakan karakteristik pengguna sebagai dasar segmentasi pasar.

Sesi ini kemudian ditutup dengan kesimpulan bahwa data mining bukan sekadar alat teknis, melainkan fondasi penting yang harus dikaitkan dengan kreativitas serta intuisi manusia agar keputusan desain produk yang dihasilkan lebih tepat, relevan, dan berkelanjutan. Dengan antusias  peserta yang tinggi sepanjang diskusi, panitia menutup acara dengan harapan bahwa wawasan yang diperoleh dapat mendorong peserta untuk terus mendalami potensi data mining pada proses desain dan pengembangan inovasi produk di masa mendatang.

Nisrina Nur Masrefa

Program Studi Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII), kembali menyelenggarakan Webinar Pengenalan Profesi pada Sabtu (18/10) melalui platform Zoom. Kegiatan ini mengangkat tema “Siap Jadi Product Designer? Yuk Kenali Dunia Design Product” yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai ruang lingkup desain produk serta pentingnya inovasi yang berangkat dari kebutuhan pengguna.

Acara dimulai pukul 09.30 WIB dan dipandu oleh Mukti Faunia Rahmayani, mahasiswa Manajemen Rekayasa angkatan 2025 sebagai MC. Ia kemudian memperkenalkan narasumber, Ratih Dianingtyas Kurnia, Ph.D., seorang dosen Manajemen Rekayasa UII yang memiliki kompetensi dalam bidang perancangan produk: desain berbasis pengguna, dan sistem inovasi.

Desain Produk yang Berpusat pada Pengguna

Pada pemaparan materi, Beliau menjelaskan bahwa desain produk tidak sekadar memperindah tampilan sebuah benda. Lebih dari itu, desain harus memastikan produk tersebut fungsional, nyaman, mudah digunakan, dan benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.

“Desain yang baik adalah desain yang memudahkan pengguna, bukan sekadar menambahkan banyak fungsi,” ungkapnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya memahami User Experience (UX) dalam proses perancangan. Menurutnya, produk yang baik adalah produk yang menyesuaikan kebiasaan dan preferensi pengguna, bukan sebaliknya.

“ Desain produk itu harusnya mengikuti kebiasaan pengguna. Bukannya malah memaksa pengguna untuk mengikuti desain” tegasnya.

Untuk memenuhi hal tersebut, Beliau menjelaskan bahwa seorang desainer produk perlu memahami lima tahapan Design Thinking. Tahapan ini mencakup empathize, define, ideate, prototype dan testing kepada pengguna. Keseluruhan proses ini membantu memastikan desain yang dibuat benar-benar relevan dan bermanfaat bagi pengguna.

Sesi Diskusi

Memasuki sesi diskusi, peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar bagaimana mengetahui bahwa suatu produk benar-benar efektif bagi pengguna. Menanggapi hal tersebut, Narasumber menegaskan bahwa observasi perilaku, uji coba langsung, dan evaluasi berkelanjutan menjadi langkah penting untuk memastikan manfaat dari produk yang dirancang.

“Desain bukan hanya soal kreativitas, tetapi tentang empati dan keberpihakan pada pengguna,” tegasnya.

Lebih lanjut, webinar ditutup dengan harapan agar mahasiswa MR FTI UII dapat mengenali dunia proses desain secara menyeluruh. Kedepannya merekalah yang akan berkontribusi dalam menghadirkan produk-produk inovatif. Sosok yang tidak hanya memberikan solusi, tetapi juga menghadirkan kenyamanan dan pengalaman penggunaan yang baik.

Syawarani Gayatri

Yogyakarta, Januari 2025 — Dosen Program Studi (Prodi) Manajemen Rekayasa berkolaborasi dengan tim peneliti mahasiswa dari Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), mengembangkan smart headphone inovatif yang mampu mengendalikan paparan kebisingan dan pencahayaan berlebih saat bermain video game. Hasil penelitian ini dituangkan dalam paper berjudul “Studi Pendahuluan Perancangan Smart Headphone untuk Pengendalian Paparan Kebisingan dan Pencahayaan” yang dipublikasikan melalui SEMNAS RISTEK (Seminar Nasional Riset dan Teknologi). Penelitian tersebut merupakan salah satu penelitian yang diselesaikan dosen manajemen rekayasa. 

Tim peneliti terdiri dari Ratih Dianingtyas Kurnia, Ph.D., dosen Prodi Manajemen Rekayasa, serta empat mahasiswa prodi Teknik Industri — Virna Kumala, M. Ilham Ivansyah, Nabila Alifah, dan Muhammad Ryan Febriansyah — yang berperan aktif dalam pengumpulan data, perancangan sistem, dan analisis hasil penelitian. menyoroti risiko kesehatan akibat paparan bising hingga 80 dB dan pencahayaan rendah saat bermain game. Kondisi tersebut dapat menurunkan konsentrasi hingga menyebabkan gangguan pendengaran dan penglihatan.

“Melalui riset ini, kami ingin menghadirkan teknologi wearable yang tidak hanya nyaman, tetapi juga mampu melindungi pengguna dari paparan berlebih,” ujar Ratih, dosen sekaligus peneliti utama.

Smart headphone ini mengintegrasikan sensor suara KY-038 dan sensor cahaya TSL45315 yang terhubung dengan Raspberry Pi sebagai pengendali utama. Sistem akan otomatis mengaktifkan fitur noise-cancellation atau memberikan notifikasi suara bila pengguna terpapar kebisingan atau cahaya di luar ambang batas aman.

Rancangan produk juga mengacu pada prinsip ergonomi dan antropometri, dengan menyesuaikan ukuran kepala dan telinga pengguna agar tetap nyaman digunakan dalam waktu lama. Analisis data menunjukkan seluruh dimensi tubuh responden berdistribusi normal, memastikan desain sesuai untuk berbagai ukuran pengguna.

Penelitian ini menjadi langkah awal menuju pengembangan teknologi audio cerdas yang berorientasi pada kesehatan pengguna. “Harapannya, riset ini bisa menjadi dasar bagi pengembangan wearable technology lain yang lebih adaptif dan ramah terhadap kondisi fisik manusia,” tambah Ratih.

Selain sebagai solusi bagi gamer, teknologi ini juga berpotensi diterapkan di sektor industri dan pendidikan yang memerlukan kontrol terhadap kebisingan dan pencahayaan lingkungan kerja.

Program Studi Manajemen Rekayasa FTI UII merupakan bidang yang menggabungkan disiplin teknik, manajemen, dan inovasi teknologi untuk menjembatani proses perancangan hingga implementasi solusi rekayasa yang bernilai bisnis. 

Mahasiswa di prodi ini dibekali kemampuan analisis sistem, manajemen proyek, serta pengembangan produk berbasis teknologi agar mampu mengelola sumber daya secara efisien dan berkelanjutan. Dengan karakter interdisipliner tersebut, Manajemen Rekayasa menjadi jurusan yang sangat relevan untuk mengembangkan produk inovatif seperti smart headphone ini, karena menuntut pemahaman tentang teknologi, kebutuhan pengguna, dan aspek manajerial dalam proses inovasi.

Sumber: Studi Pendahuluan Perancangan Smart Headphone untuk Pengendalian Paparan Kebisingan dan Pencahayaan

Rani Novalentina

Yogyakarta — Banyak calon mahasiswa yang aktif berorganisasi sejak SMA, seperti di OSIS atau Pramuka, sering ragu untuk memilih jurusan teknik saat kuliah. Mereka khawatir tidak punya ruang untuk melanjutkan kegiatan organisasi dan mengasah jiwa kepemimpinan.

Namun, hal itu tidak berlaku di Program Studi Manajemen Rekayasa (MR), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII). Justru, mahasiswa dengan latar belakang aktif organisasi sangat dibutuhkan. Jiwa pemimpin, kemampuan komunikasi, hingga keterampilan mengelola waktu yang sudah terbentuk sejak SMA menjadi bekal penting untuk berkuliah di jurusan ini dan sukses di dunia industri.

Menurut Sayyidah Maulidatul Afraah, S.T., M.T. yang merupakan salah satu dosen MR FTI UII, mahasiswa yang memiliki pengalaman organisasi cenderung cepat beradaptasi, inisiatif, dan lebih percaya diri saat bekerja sama dalam tim. 

“Kemampuan ini sangat relevan dengan materi perkuliahan di Manajemen Rekayasa, dimana mahasiswa belajar memimpin proyek dan mengelola tim secara profesional,” ujarnya.

Selain itu, FTI UII menyediakan berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bisa menjadi tempatmu berkembang di luar kelas. Misalnya, untuk kamu yang aktif di OSIS, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) bisa menjadi pilihan tepat untuk melatih manajemen acara dan kepemimpinan. Kamu bahkan bisa improve ke jenjang lebih atas melalui Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas, bahkan bisa sampai ke Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas yang tentunya dapat meningkatkan skill mu. Kalau kamu dulu suka kegiatan sosial seperti PMR, KSR (Korps Sukarela) siap melatihmu menjadi relawan tangguh. Suka tantangan di alam bebas? Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) bisa jadi wadah yang seru.

Ada juga UKM Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) bagi yang suka menulis dan meliput peristiwa kampus, serta UKM Kewirausahaan yang cocok untuk kamu yang ingin belajar berbisnis sejak kuliah. Seluruh UKM ini terbuka untuk semua mahasiswa dan menjadi sarana penting untuk mengasah jiwa kepemimpinan, kreativitas, dan memperluas jaringan pertemanan.

Salah satu anggota LEM FTI juga membagikan pengalamannya, bahwa selama menjadi pengurus ia merasa lebih berkembang sebagai mahasiswa dan terlatih menjadi problem solver dalam menghadapi berbagai situasi.

FTI UII juga menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan UKM dan mahasiswa, di antaranya Auditorium FTI, Gelanggang Olahraga (GOR) UII, Student Lounge, ruang-ruang pertemuan, lapangan, serta fasilitas teknologi dan media yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang berbagai kegiatan mahasiswa.

Dengan berbagai fasilitas dan kesempatan tersebut, Program Studi Manajemen Rekayasa FTI UII menjadi pilihan tepat bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan semangat organisasi ke level lebih tinggi, sekaligus menyiapkan diri menghadapi dunia industri dengan keterampilan lengkap.

Rani Novalentina

Kendaraan listrik kini menjadi topik hangat yang banyak diperbincangkan masyarakat urban. Tingginya kesadaran generasi muda, khususnya Gen Z, terhadap isu lingkungan dan energi terbarukan turut mendorong meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik di Indonesia. Namun, di balik ramainya perbincangan publik tentang kendaraan listrik, adopsinya di Indonesia ternyata belum secepat yang dibayangkan. Berbagai faktor menjadi penyebabnya, terutama kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya menyesuaikan dengan kebutuhan dan ekspektasi masyarakat.

Masalah ini menarik perhatian Dr. Dwi Adi Purnama. Ia merupakan dosen Program Studi Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII). Bersama tim peneliti lainnya, beliau melakukan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional berjudul  “Data-driven Public Policy for Electric Vehicles (EV) through Open Innovation and Dynamic Consumer Preferences.”

Dari Media Sosial Menjadi Pemodelan Data

Dalam penelitiannya, Dr. Dwi Adi menggunakan pendekatan yang tidak biasa. Alih-alih melakukan survei konvensional, tim peneliti memanfaatkan big data dari media sosial (Twitter/X) untuk menangkap opini publik secara real-time. Mereka mengumpulkan lebih dari 170 ribu cuitan masyarakat Indonesia terkait kendaraan listrik selama hampir satu dekade (2014–2023).  Data ini kemudian dianalisis menggunakan teknik machine learning dan analisis sentimen untuk melihat bagaimana persepsi publik terhadap kendaraan listrik dari waktu ke waktu.

Dari hasil pengolahan data tersebut, tim menemukan berbagai topik utama yang sering dibahas masyarakat — mulai dari harga kendaraan, baterai, jarak tempuh, hingga infrastruktur pengisian daya. Analisis ini kemudian menjadi dasar lahirnya model inovatif bernama D-PII–IPA (Dynamic Product Improvability Index – Importance Performance Analysis).  Pemodelan ini memungkinkan pemerintah untuk menentukan prioritas kebijakan dan inovasi produk berdasarkan opini publik yang terus berubah. Dengan memanfaatkan big data, kebijakan tidak lagi dibuat hanya dari sudut pandang pembuatnya, tetapi juga mempertimbangkan suara masyarakat sebagai pengguna akhir.  

Hasil pemodelan ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi kebijakan, antara lain pemberian insentif harga, perluasan infrastruktur pengisian daya, serta peningkatan kenyamanan dan edukasi publik mengenai kendaraan listrik. Temuan ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah terkait strategi percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Perpaduan Data dan Teknologi untuk Masyarakat

Lebih dari sekadar riset kebijakan, penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi dan data dapat berkolaborasi untuk menghasilkan keputusan yang berdampak nyata. Model ini menjadi kontribusi penting dalam bidang Manajemen Rekayasa, karena berhasil mengintegrasikan teknologi data, analisis sistem, dan pengambilan keputusan strategis. Melalui karya ini, Dr. Dwi Adi Purnama menegaskan salah satu kekuatan utama bidang Manajemen Rekayasa — bagaimana seorang engineer-manager mampu menerjemahkan data dan teknologi menjadi dasar pengambilan keputusan yang cerdas, adaptif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Sumber: https://doi.org/10.1016/j.joitmc.2025.100583

Syawarani Gayatri

Pada Kamis (11/08), segenap civitas akademika Program Studi Manajemen Rekayasa (MR), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) dengan hangat menyambut mahasiswa baru 2025 selaku angkatan pertama. Acara penyambutan yang digelar di Gedung KH Mas Mansyur ini menjadi momen bersejarah sekaligus menandai dimulainya perkuliahan perdana Prodi Manajemen Rekayasa yang telah resmi dibuka pada Mei 2025 lalu. 

Tepat pukul 13.00 WIB, acara dibuka oleh MC, Sang Adji Paco Labib dan Bintang Nairah Yuan. Kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars UII. Pembacaan tilawah dilakukan oleh Abdurohman, perwakilan mahasiswa baru MR. Acara selanjutnya merupakan sambutan Kaprodi Manajemen Rekayasa, Elanjati Worldailmi, S.T., M.Sc,. Beliau dengan hangat meyambut dan menyapa secara langsung mahasiswa baru MR 2025.

“Selamat datang kepada adik-adik mahasiswa baru Program Studi Manajemen Rekayasa di kampus FTI UII. Kami berharap kalian dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi unggul yang berkontribusi nyata melalui prodi ini,” ujar Elanjati.

Hangatnya Interaksi Dosen dan Maba MR

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Jurusan Teknik Industri, Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc. Beliau menyampaikan bahwa bersama prodi Manajemen Rekayasa, mahasiswa akan dipersiapkan untuk menjadi generasi muda yang adaptif terhadap kebutuhan industri masa kini dan masa depan.

Selanjutnya, suasana terasa meriah ketika para dosen Prodi Manajemen Rekayasa memperkenalkan diri dan berbagi cerita bersama mahasiswa baru. Dilanjutkan dengan pemaparan Program S1 Reguler oleh Dr. Dwi Adi Purnama, S.T., selaku perwakilan dosen MR. Beliau menjelaskan skema perkuliahan, fokus bidang studi, timeline perkuliahan, hingga fasilitas yang tersedia. Sesi yang berlangsung interaktif ini, memberikan gambaran kepada mahasiswa agar dapat lebih siap menghadapi dunia perkuliahan. 

Terakhir, puncak acara ditutup dengan sesi perkenalan dari mahasiswa baru MR yang mempererat rasa kebersamaan dan semangat memulai perjalanan akademik. Salah satu perwakilan mahasiswa, Muhammad Kadafi Aldi, membagikan kesan pertamanya.

“First Impression aku seru banget karena teman-temannya humble, dosennya juga seru dan fasilitasnya memadai,” ungkapnya.

Kadafi berharap selama berkuliah di Manajemen Rekayasa, dapat membantunya beradaptasi untuk menjadi relevan dengan kebutuhan industri, baik pada masa kini maupun masa depan

Acara ini menandai awal perjalanan Prodi Manajemen Rekayasa FTI UII. Selamat datang kepada mahasiswa baru angkatan 2025. Mari bertumbuh dan bertransformasi menjadi generasi muda yang kompeten, demi masa depan yang lebih cerah.

Syawarani Gayatri

Pada Selasa (27/05) Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) resmi meluncurkan Program Studi S1 Manajemen Rekayasa. Program ini menjadi yang pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, sekaligus menjadi bentuk nyata komitmen UII dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap kebutuhan industri modern.

Program studi ini telah memperoleh izin operasional dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui SK Nomor 175/B/O/2025 yang diterbitkan pada 24 Maret 2025. Dengan terbitnya SK tersebut, Prodi Manajemen Rekayasa siap menerima mahasiswa baru untuk semester ganjil tahun akademik 2025/2026.

Dalam konferensi pers yang digelar di Ruang Dekan FTI UII, hadir Dekan FTI UII Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN.Eng., Ketua Jurusan Teknik Industri Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc., Ketua Program Studi Manajemen Rekayasa Elanjati Worldailmi, S.T., M.Sc., dan Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Dr. Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc.

“Peluncuran Prodi ini merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan industri terhadap tenaga profesional yang mampu mengintegrasikan aspek rekayasa dan manajemen secara sistemik,” ujar Prof. Hari Purnomo.

Prodi ini dirancang untuk mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan manajerial dalam mengelola proses bisnis dan operasional berbasis pendekatan efisiensi dan digitalisasi. Program ini menonjolkan pendidikan multidisipliner dengan fokus pada digital data-driven product design.

Imam Djati Widodo menambahkan bahwa keunggulan utama program ini terletak pada penerapan sistem pembelajaran hybrid, yaitu kombinasi pembelajaran daring dan luring yang fleksibel. “Kami ingin memberikan akses pembelajaran yang luas, relevan, dan selaras dengan dinamika teknologi digital tanpa mengurangi kualitas akademik,” jelasnya.

Selain itu, kurikulum Prodi Manajemen Rekayasa FTI UII juga mengedepankan kolaborasi dengan industri, pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), serta integrasi nilai-nilai keislaman sebagai ciri khas lulusan UII.

Ketua Program Studi, Elanjati Worldailmi, menyampaikan bahwa program ini berfokus menghasilkan lulusan yang EPIC — Ethical, Professional, Intelligent, dan Competent. “Melalui pendekatan Capstone Design, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman praktis dalam pengembangan produk tanpa kewajiban menulis skripsi tradisional, sehingga lebih siap langsung terjun ke dunia kerja,” ujarnya.

Masa studi ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu maksimal delapan semester, dengan biaya yang relatif terjangkau. Saat ini, pendaftaran mahasiswa baru telah dibuka dan Prodi siap menerima calon mahasiswa untuk semester ganjil tahun akademik 2025/2026. Informasi lebih lanjut mengenai struktur kurikulum, skema beasiswa, hingga alur pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi Manajemen Rekayasa FTI UII, sehingga calon mahasiswa dapat merencanakan studinya secara matang sejak awal.

Oleh: Zelania In Haryanto

Zaman modern sudah memberi banyak perubahan pada kehidupan manusia, di antaranya adalah faktor kesehatan yang semakin kompleks terutama mental. Tekanan dari dalam maupun luar sangat berpotensi menyebabkan stres sampai depresi, keadaan yang kerap diderita oleh manusia modern sehingga memicu kecemasan. Belum lagi mereka yang mendapatkan luka mental di masa lalu, tentu akan menderita kesulitan dalam menjalani kehidupan keseharian dikarenakan terganggunya fungsi fisik serta psikologis. Bila telah menyebabkan gangguan pada kegiatan harian, pertolongan profesional sangat diperlukan guna penyembuhannya. Namun, selain bantuan profesional, seseorang juga dapat melakukan penyembuhan diri atau self healing dengan pendekatan agama Islam, yang dapat kita sebut dengan Islamic healing.

Sebelum kita membahas mengenai Islamic healing, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu self healing. Secara umum, karakteristik self healing (penyembuhan diri) yaitu hati yang tenang dan bersih.1 Pengulangan penyembuhan diri yang konsisten dapat dilakukan secara terpisah untuk memperoleh hasil terbaik dalam menjaga kesehatan mental.2 Pendekatan ini tidak bergantung pada pengobatan tertentu, tetapi lebih memfasilitasi pelepasan emosi dan perasaan secara alami baik dalam tubuh maupun pikiran.3 Fenomena penyembuhan diri terkait erat dengan keyakinan, karena konsep diri berfungsi sebagai katalis utama untuk keyakinan diri.4

Penyembuhan diri mengacu pada kemampuan bawaan tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri, karena istilah “penyembuhan” dipahami sebagai prosedur pengobatan atau pemulihan yang sistematis.4 Tujuan penting dari penyembuhan diri adalah untuk mencapai kesadaran diri. Setelah mencapai penyembuhan diri, seseorang akan mengembangkan keyakinan diri yang meningkat dalam menghadapi tantangan hidup, menerima kesalahan dan kesulitan.5 Konsep yang mendasari proses penyembuhan diri adalah bahwa tubuh manusia memiliki kapasitas bawaan untuk memulihkan dan memperbaiki dirinya sendiri melalui mekanisme alami tertentu.6 Tujuan dari proses penyembuhan diri ini adalah untuk mengurangi stres, ketakutan, dan gejala tekanan mental dan emosional lainnya.7

Dalam Islam, konsep penyembuhan diri dicontohkan oleh keputusan Nabi untuk melakukan tahajud dan dzikir di Gua Hira, yang melibatkan penyerahan hatinya kepada Allah SWT, ketika menghadapi situasi sulit.8 Untuk mencari kesembuhan, Nabi melakukan pengabdian dan meditasi dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Nabi mengamati praktik melakukan salat sebagai sarana untuk mencapai ketenangan pikiran, sehingga memungkinkan perenungan yang efektif terhadap kesejahteraan mental dan fisik.9

Dalam Islam, Al-Qur’an serta Hadits berfungsi selaku sumber inti petunjuk bagi umat Islam dalam banyak bidang kehidupan, yang mencakup masalah spiritual dan etika. Satu diantara konsep krusial dalam Al-Qur’an yang sangat dekat dengan Islamic healing adalah muhasabah, yaitu introspeksi diri maupun mengevaluasi tindakan diri sendiri. Muhasabah merupakan salah satu cara untuk self healing. Muhasabah adalah istilah yang berasal dari kata حاسب – يحاسب, yang dalam bentuk masdar (dasar) berarti menghitung, mengoreksi, dan introspeksi. Dengan demikian, muhasabah merujuk pada upaya seseorang guna menghitung serta melakukan evaluasi diri, mengecek berapa banyak dosa yang sudah dilaksanakan serta kebaikan apa saja yang belum dilaksanakan.10

Proses self healing adalah bagian dari upaya menjaga kesehatan psikologis. Proses ini dimulai dengan menerima diri sepenuhnya, mengidentifikasi sumber masalah, memahami penyebab konflik, dan berusaha menyelesaikannya, baik masalah pribadi maupun yang melibatkan orang lain. Self healing bukan hanya melibatkan perawatan fisik, tetapi juga aspek spiritual. Dalam Islam, kesembuhan datang dari Allah, sedangkan dokter hanya sebagai perantara.11 Islam mengajarkan muhasabah sebagai solusi untuk menguatkan mental yang lemah, menyembuhkan mental yang terluka, serta mengatasi konflik batin dan masalah emosional yang ada. Muhasabah berperan penting dalam proses self healing, dengan cara fokus pada masalah yang dilawan, menerimanya dengan lapang dada, dan mengingat Allah sebagai sumber pertolongan.12 Muhasabah selaku tahapan self healing adalah solusi yang ditawarkan agama untuk penyembuhan jiwa dan spiritual manusia modern. Dengan introspeksi yang benar, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak, cepat bertaubat jika berbuat salah, dan mampu melakukan pengendalian diri, sehingga jadi lebih baik dalam segala hal dan menyebarkan energi positif di sekitarnya.

Selain dalil di dalam Al-Qur’an, konsep Islamic healing juga ada pada Hadis Nabi Muhammad saw. Berikut ini yakni satu diantara Hadis terkait self healing bagi luka mental:

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللََِّّ الدُّؤَلِ يِ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ ابْنِ أَخِي حُذَيْفَةَ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كَانَ ال نَّبِيُّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى (رواه أبوداود)

 

“Sudah mengisahkan pada kami Muhammad bin Isa, sudah mengisahkan pada kami Yahya bin Zakariya dari Ikrimah bin Ammar dari Muhammad bin Abdillah ad-Du’ali dari Abdul Aziz keponakan Hudzaifah dari Hudzaifah, ia berucap: “Jika Nabi Muhammad saw. memiliki rasa resah dikarenakan suatu hal, beliau salat” (H.R. Abu Daud No. 1319).13

Hadis di atas mengandung makna bahwa salat tidak hanya mengajarkan ketaatan kepada Allah SWT.14 Lafadz إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ mengandung makna “ketika sesuatu yang penting menimpa mereka atau mereka merasa sedih”. Lafadz حَزَبَه pada huruf ب juga diartikan sebagai الحزن, yang bermakna kesedihan. Al-Munziri menyebutkan bahwa hadis ini juga diriwayatkan secara mursal, kecuali dalam lafadz إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى في اخر الليل.15 Selain itu, ayat Al-Qur’an Q.S. al-Baqarah [2]: 45 bahwa konsistensi dalam salat akan terasa berat terkecuali guna mereka yang khusyuk kepada Allah SWT., yang jiwanya penuh keimanan, sehingga mereka segera salat untuk mendamaikan hati dan menghilangkan kegundahan mereka.16

Terdapat redaksi Hadis lain mengenai self healing yang berbunyi di bawah ini:

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالََّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَقَ يُحَدِ ثُ عَنْ الَْْغَ ر أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِ يِ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِ يِ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لََّ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَََّّ عَزَّ وَجَلَّ إِلََّّ حَفَّتْهُمْ الْمَلََئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَ لَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللََُّّ فِيمَنْ عِنْدَه )رواه مسلم(

 

Nabi Muhammad saw. bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul guna melakukan dzikir (mengingat Allah), terkecuali dinaungi oleh para malaikat, diberi kesimpahan pada mereka rahmat, diturunkan pada mereka rasa tenang, serta Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya” (H.R. Muslim No. 2700).17

Hadis di atas menunjukkan keutamaan berzikir, majelis zikir, serta keberkahan berteman dengan orang-orang saleh. Al-Qadhi Iyad menyebutkan bahwa zikir terbagi jadi dua, yakni zikir dengan hati serta lisan. Zikir dengan hati ialah merenungkan kebesaran Allah dan mematuhi perintah serta larangan-Nya (Imam Nawawi). Zikir yakni kunci ketenangan hati, inti dari kebahagiaan, karena dengan zikir hati manusia sekadar bergantung pada Allah SWT. serta tidak pada yang lain. Zikir menyebabkan sakinah (ketenangan), rahmat, dan dikelilingi malaikat.18

Selain itu, terdapat juga hadis lain yang seirama dengan hadis di atas mengenai self healing, yaitu sebagai berikut:

 

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الَْْعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَ يرَةَ عَنْ النَّبِ يِ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللََِّّ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللََِّّ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلََّّ نَزَ لَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلََئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللََُّّ فِيمَنْ عِنْدَهُ )رواه مسلم(

 

Nabi Muhammad saw. bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul di satu diantara rumah dari rumah-rumah Allah, guna membaca serta mempelajari kitab-Nya, terkecuali sakinah (ketenangan) turun pada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, serta Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-Nya” (H.R. Muslim No. 2700).17

Hadis di atas menunjukkan tentang keutamaan membaca serta mendalami Al-Qur’an, baik dalam majelis umum maupun khusus. Sakinah, rahmat, dan malaikat yang menaungi mereka menunjukkan betapa pentingnya menghadiri majelis zikir dan majelis ilmu. Membaca Al-Qur’an secara teratur, diiringi dengan pemahaman akan maknanya, membantu menjelaskan sasaran hidup. Ketika Al-Qur’an berfungsi selaku pedoman hidup, kita bisa yakin bahwa setiap aktivitas yang kita lakukan di dunia dan yang kita jalani dalam hidup ini akan senantiasa dijaga dan diarahkan oleh Tuhan kita.19

Pedoman hadis dan Al-Qur’an diatas menunjukkan pentingnya salat dan zikir sebagai bentuk self healing bagi kesehatan mental. Kedua aktivitas tersebut selain untuk mendekatkan seseorang kepada Allah SWT., juga untuk memberikan ketenangan jiwa serta menyembuhkan luka mental, sehingga seseorang dapat lebih kuat menghadapi berbagai tantangan hidup yang dialaminya.

REFERENSI

 

1 Zakiah, N. (2022). Menjaga Kesehatan Mental dengan Self Healing. Jakarta: Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

2 Rahmasari, D. (2020). Self Healing is Knowing Your Own Self. Surabaya: Unesa University Press.

3 Adila, S. N. (2020). Generasi Z & Self Healing dalam Karya Musik (Studi Analisis Resepsi Self Healing Generasi Z dalam Album “Mantra-mantra Oleh Kunto Aji. Surabaya: Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4 Bachtiar, M. A., & Faletehan, A. F. (2021, Juni). Self-Healing sebagai Metode Pengendalian Emosi. 6(1).

5 Biscayawati, A. D. (2020). Analisis Semiotik Simbol Self Healing Pada Lirik Lagu dalam Album Menari Dengan Bayangan-Hindia. Surabaya: UIN Sunan Ampel.

6 Rahmawati, A. P. (2020). Analisis Nilai Sufistik dalam Prosedur Self Healing (Studi Deskriptif Analisis Pada Pelatihan Mind Healing Technique Angkatan ke-13 di Kota Bandung Tahun 2019). Bandung: UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

7 Islami, L. A. (2016). Self Healing dalam Mengatasi Post-Power Syndrome. Serang: UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

8 Arroisi, J. (2018, November). Spiritual Healing dalam Tradisi Sufi. TSAQAFAH Jurnal Peradaban Islam, 14(2).

9 Zakiah, N. (2022). Menjaga Kesehatan Mental dengan Self Healing. Jakarta: Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

10 Zakiyah Darajat, Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Tentang Kesehatan Mental dalam Mukjizat Al-Qur’an dan Sunnah tentang IPTEK, (Jakarta: GIP, 1997), 215.

11 Saila Rahmatika, Abd Rozaq, and Ulil Fauziyah, “Konsep Self-Healing Perspektif Al-Qur’an Dan Psikologi (Studi Atas Surah Al-Muzammil 1-10),” Asy-Syari’ah : Jurnal Hukum Islam 9, no. 2 (July 15, 2023): 116–31.

12 Ahmad Kamaluddin, Kontribusi Regulasi Emosi Qur’ani Dalam Membentuk Perilaku Positif (Surabaya: Cipta Media Nusantara, 2022), 62.

13 Abi Daud. (2009). Sunan Abi Daud (Jilid 2). Beirut: Dar ar-Risalah al-‘Alamiyyah.

14 Fadil, A. (2018). Shalat Sebagai Obat (Kajian Hadis Tahlili). UIN Alauddin Makassar.

15 Syariful Haq. (2005). ‘Aunul Ma’bud ‘ala Syarhi Sunan Abi Daud (Cetakan 1). Beirut: Dar Ibn Hazm.

16 Azmi, R. (2017). Hubungan Sabar dan Shalat dalam al-Qur’an. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.

17 Muslim. (2015). Shahih Muslim (Edisi 2). Riyadh: Dar al-Hadhrah li an-Nasyri wa at-Tauzi.

18 Tarwalis. (2017). Dampak Dzikir Terhadap Ketenangan Jiwa (Studi Kasus di Gampong Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar). Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

19 Khafidoh, E. N. (2021). Studi Komparatif Pendidikan Islam dalam Tembang Lir-Ilir Karya Sunan Kalijaga dan Tembang Tombo Ati Karya Sunan Bonang. Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.

 

 

Oleh: Sayyidah Maulidatul Afraah

Di zaman disrupsi seperti sekarang, generasi muda tengah menghadapi perubahan yang sangat cepat akibat kemajuan teknologi digital. Apakah kamu tahu apa arti dari disrupsi? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disrupsi berarti tercabut dari akar. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, disrupsi menggambarkan sebuah fenomena perubahan yang bersifat mendasar, terutama akibat perkembangan teknologi yang menyentuh berbagai aspek kehidupan (Kasali, 2018). Era ini membawa berbagai tantangan, terutama bagi generasi muda muslim. Namun, mereka diharapkan untuk tetap memanfaatkan potensi pada dirinya, tidak berhenti belajar, hingga menjadi generasi yang berprestasi sambil menjaga nilai-nilai keislaman. Seperti firman Allah pada QS. Al-Mujadalah [58]: 11:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

 

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah [58]: 11)”

 

Dalam ayat tersebut, Allah menyampaikan bahwa Dia akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu. Pesan ini menjadi motivasi penting bagi generasi muda Muslim untuk terus menuntut ilmu dan mengembangkan pengetahuan. Sebab, iman dan ilmu adalah fondasi utama untuk meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.

Generasi muda Muslim yang berprestasi merupakan sosok-sosok yang mampu meraih keberhasilan di berbagai bidang kehidupan—baik akademik, profesional, maupun sosial—tanpa melepaskan nilai-nilai Islam yang mereka anut. Mereka tidak hanya cakap dalam sains dan teknologi, tetapi juga menjunjung tinggi akhlak yang mulia, memiliki integritas, serta memberi kontribusi positif bagi masyarakat dan umat.

 

Tantangan Perkembangan Teknologi di Era Disrupsi

Menurut sebuah artikel yang disusun oleh Abdul Rashid Abdul Aziz, Rabi’ah, dan Ihda Ihromi pada tahun 2023 terkait Peluang dan Tantangan Moderasi Beragama di Era Digital, ada tiga tantangan perkembangan teknologi di era disrupsi (Aziz dkk., 2023).

  1. Kekeliruan Informasi akibat Hoax

Generasi muda kerap mengalami kesulitan dalam membedakan informasi yang valid dan yang menyesatkan. Ketika hoaks dianggap sebagai kebenaran, hal ini bisa menyebabkan kesalahpahaman terhadap suatu isu. Oleh karena itu, keterampilan literasi digital menjadi sangat krusial agar mereka mampu mengecek keaslian sumber informasi sebelum menjadikannya rujukan dalam kegiatan belajar. Pentingnya meneliti kebenaran berita juga telah disampaikan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada QS. Al-Hujurat [49]: 6, yang mengajarkan agar setiap kabar yang diterima diperiksa lebih dulu, guna menghindari kesalahan dan dampak negatif di masa mendatang.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

  1. Permasalahan paham radikalisme

Paparan terhadap paham radikalisme dapat mengganggu konsentrasi generasi muda dalam menempuh pendidikan. Alih-alih berfokus pada belajar dan pengembangan diri, mereka justru bisa terbawa ke dalam pemikiran atau tindakan ekstrem. Situasi ini tidak hanya menghambat pencapaian akademik, tetapi juga dapat merusak masa depan mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi generasi muda untuk memiliki pemahaman agama yang tepat serta kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi berbagai konten yang tersebar di dunia digital.

  1. Bahaya polarisasi sosial media

Polarisasi dapat menyebabkan generasi muda hanya menerima informasi dari satu sisi saja, yang berisiko menimbulkan pemahaman yang tidak utuh atau cenderung bias. Kondisi ini bisa menghambat kemampuan mereka dalam berpikir kritis, menyusun argumen yang seimbang, serta menulis karya ilmiah yang objektif. Untuk mengatasi hal tersebut, penting bagi generasi muda untuk terbiasa mencari informasi dari berbagai sumber, terbuka terhadap beragam sudut pandang, dan aktif terlibat dalam diskusi yang konstruktif.

 

Strategi Menghadapi Tantangan di Era Disrupsi

Menurut sebuah artikel yang susun oleh Achmad Tahar, Pompong B. Setiadi, dan Sri Rahayu pada tahun 2022, terkait Peluang dan Tantangan Moderasi Beragama di Era Digital, ada tiga strategi yang dapat diimplementasikan dalam menghadapi tantang di Era Disrupsi.

  1. Digital Skill for Digital Competency

Generasi muda Muslim perlu membekali diri dengan kompetensi digital yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kesadaran dalam menggunakan teknologi informasi. Kompetensi ini mencakup kemampuan menggunakan perangkat lunak dan alat digital, serta pemahaman tentang keamanan siber, etika digital, dan literasi informasi. Kompetensi tersebut dapat melalui kursus online maupun pelatihan untuk mengembangkan keterampilan digital seperti desain grafis maupun pemrograman. Sehingga, generasi muda memiliki digital skill untuk kompetensi yang sesuai dengan perkembangan dan permasalahan terkini.

  1. Penerapan Digital Competency Development

Pengembangan dan penerapan kompetensi digital secara efektif adalah kunci keberhasilan dalam adaptasi teknologi. Generasi muda muslim perlu memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Seperti terlibat dalam proyek atau start-up yang menggunakan teknologi digital untuk menciptakan solusi atas masalah-masalah sosial atau ekonomi. Proyek tersebut dapat berupa pembuatan aplikasi yang mendukung pendidikan Islam atau platform digital yang mempromosikan bisnis halal. Sehingga, mereka melalui penerapan digital competency development ini untuk bekal dalam mengikuti kompetisi terkini, memberi solusi dalam kehidupan sehari-hari, hingga menghasilkan karya inovasi.

  1. Peningkatan Human Value

Di era digital, penting bagi generasi muda muslim untuk tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pengembangan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, simpati, dan kemampuan berkomunikasi dengan berbagai golongan sosial. Seperti aktif dalam kegiatan sosial baik online maupun offline, yang bertujuan untuk membantu sesama. Inisiasi tersebut dapat berupa pembuatan kampanye sosial melalui media sosial atau bergabung dengan gerakan sosial. Sehingga, mereka dapat memberikan kontribusi dan manfaat yang signifikan terhadap masyarakat dan umat.

 

Dengan mengimplementasikan strategi-strategi ini, generasi muda Muslim dapat membangun kompetensi yang diperlukan untuk sukses di era disrupsi, sekaligus mempertahankan identitas dan nilai-nilai keislaman yang kuat. Hal ini akan membantu mereka untuk tidak hanya berprestasi secara akademik dan profesional, tetapi juga berkontribusi positif bagi masyarakat dan umat. Hal ini sejalan dengan firman Allah pada QS. Ar-Ra’d [13]: 11, yang mengajarkan kita untuk proaktif dalam menghadapi perubahan.

 

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

 

Belajar dari Kisah Para Sahabat dan Tokoh Muslim

Pertama, Abdullah bin Abbas adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal karena kecerdasannya dan keilmuannya yang mendalam (Zahara, 2024). Ia adalah sepupu Nabi Muhammad SAW dan sejak kecil sudah menunjukkan kecenderungan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan. Abdullah bin Abbas dikenal dengan gelar Tarjuman al-Qur’an (penafsir Al-Qur’an) karena pengetahuannya yang luas tentang tafsir. Ia belajar langsung dari Nabi Muhammad SAW dan kemudian dari sahabat-sahabat senior lainnya. Kecintaannya pada ilmu membuatnya terus belajar dan mengajar sepanjang hidupnya. Meskipun masih sangat muda, Abdullah bin Abbas sering mencari dan berdiskusi dengan para sahabat senior untuk belajar lebih banyak. Ia menunjukkan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk mencapai pengetahuan yang tinggi.

Kedua, Dr. Hayat Sindi adalah seorang ilmuwan dan penemu dari Arab Saudi yang dikenal sebagai salah satu tokoh wanita paling berpengaruh di dunia sains (Desindatika, 2024).  Ia adalah wanita pertama dari Timur Tengah yang memperoleh gelar PhD dalam bioteknologi dari Universitas Cambridge. Dr. Sindi adalah co-founder Diagnostics for All, sebuah organisasi nirlaba yang mengembangkan alat diagnostik yang mudah digunakan dan murah untuk daerah terpencil. Sebagai wanita Muslim, Dr. Sindi berhasil menembus batas-batas yang biasanya dianggap sulit dicapai oleh wanita di dunia sains dan teknologi. Ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita Muslim dan generasi muda untuk berani bermimpi besar dan mengejar karir dalam bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika).

Abdullah bin Abbas dari masa lalu dan Dr. Hayat Sindi dari masa kini menunjukkan bahwa kecintaan pada ilmu, keteguhan dalam menuntut ilmu, dan komitmen untuk menggunakan ilmu tersebut demi kemaslahatan orang banyak adalah kualitas-kualitas yang dapat membawa seseorang menuju prestasi besar. Generasi muda Muslim di era digital dapat meneladani semangat ini untuk mencapai kesuksesan sambil tetap memegang teguh nilai-nilai Islam.

 

Motivasi untuk Generasi Muda Muslim

Sebagai generasi muda kita perlu untuk berani bermimpi dan berinovasi. Jadikan iman dan taqwa sebagai fondasi dalam setiap langkah. Dengan iman yang kuat, kita akan memiliki ketenangan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan. Hal tersebut sesuai dengan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas RA yang menjelaskan terkait pentingnya memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya, sebelum datang masa tua, sakit, atau kesibukan. Bagi generasi muda Muslim, ini adalah panggilan untuk memaksimalkan potensi diri, mencapai prestasi, dan mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat sebelum kesempatan itu hilang.

 

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.”

 

Dengan memanfaatkan teknologi, berinovasi, dan menjaga nilai-nilai keislaman, kita dapat menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi umat dan dunia. Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk terus berusaha dan berprestasi di tengah segala perubahan.

 

Marâji’

Abdul Rashid Abdul Aziz, Rabi’ah, Ihda Ihromi. “Peluang dan Tantangan Moderasi Beragamadi Era Digital” dalam INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan, Vol. 1 No. 2, Tahun 2023.

Achmad Tahar, Pompong B. Setiadi, Sri Rahayu. “Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 Menuju Era Society 5.0” dalam Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol. 6 No. 2, Tahun 2022.

Dwitisya Rizky Desindatika. “Dr Hayat Sindi, Muslimah Pendobrak Teknologi Kesehatan Dunia” https://langit7.id/read/132/1/dr-hayat-sindi-muslimah-pendobrak-teknologi-kesehatan-dunia-162487481. Diakses pada 29 Agustus 2024.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Disrupsi” https://www.kbbi.web.id/disrupsi. Diakses pada 29 Agustus 2024.

Muhammad Afiq Zahara. “Kisah Kepekaan Ibnu Abbas Sejak Kecil” https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/kisah-kepekaan-ibnu-abbas-sejak-kecil-xhj75. 2023. Diakses pada 29 Agustus 2024.

Rhenald Kasali. The Great Shifting: Ketika Platform Berubah Kehidupan dan Bisnis pun Berpindah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2018.

 

 

Tim PKM-Kewirausahaan Universitas Islam Indonesia (UII) dari jurusan Teknik Industri dan Farmasi telah membuat terobosan dengan mengembangkan produk salep inovatif sebagai terapi luka. Tim yang terdiri dari Mumtaz Fahd Rifmawan Ms, Andi Muh Khaidir Resqullah, Muhammad Arif Fadhillah, Sofa Tasya Kamila, dan Khanza Adinda Salsabila ini menciptakan “Multipin Salep,” salep herbal yang menggunakan ekstrak Kalanchoe Pinnata dan Jatropha Multifida, dan dibimbing oleh Ir. Muchamad Sugarindra, S.T., M.T.I., IPM. Produk ini dilengkapi dengan aroma melati yang memberikan efek terapi tambahan.

Multipin Salep merespons kebutuhan banyak masyarakat Indonesia yang menderita luka lecet dan sayat serta cenderung menggunakan pengobatan tradisional. Produk ini memanfaatkan bahan alami herbal yang mengurangi risiko efek samping, berbeda dari produk kimia. Dengan kandungan antibakteri dan anti inflamasi dari jarak tintir (Jatropha multifida Linn) dan cocor bebek (Kalanchoe pinnata Lamk), salep ini memberikan solusi penyembuhan luka yang efektif sekaligus menyegarkan dengan aroma minyak atsiri bunga melati.

Pembuatan Multipin Salep melibatkan serangkaian proses mulai dari pembuatan serbuk simplisia, ekstraksi bahan herbal, hingga pencampuran dengan Cera Alba, Vaselin Album, dan bahan pelengkap lainnya. Salep kemudian dipasarkan melalui kanal online seperti media sosial dan e-commerce, serta offline melalui strategi grassroots campaign yang bekerjasama dengan apotek dan toko obat herbal. Strategi ini dirancang untuk mempromosikan dan meningkatkan adopsi salep herbal di kalangan masyarakat luas. (Abdullah Azzam/6 Juli 2024)